PERHITUNGAN BIAYA HIDUP


Secara luas (dipandang dari seluruh aspek kehidupan) Biaya Hidup diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi yang dapat diukur dengan satuan uang baik yang sudah terjadi maupun belum terjadi untuk tujuan tertentu. Contoh perusahaan percetakan buku mencetak 1000 eksemplar buku dengan membeli bahan baku dan bahan penolong menghabiskan Rp 5.000.000, setiap buku yang terjual oleh guru bidang studi akan diberi komisi sebesar 5% dari harga jual. Dari kasus tersebut yang termasuk pengorbanan sumber ekonomi adalah uang, dimana uang tersebut terukur yaitu  sebesar Rp 5.000.000 untuk tujuan tertentu yaitu mencetak buku, dan yang akan terjadi adalah meberi komisi kepada guru yang berhasil menjual buku.

 

JENIS DAN BENTUK PENGELOLAAN BIAYA HIDUP

Pada penyusunan ini mencoba mengumpulkan dan menjelaskan beberapa pengertian biaya yang telah saya rangkum dari beberapa sumber dan buku dalam mengelola biaya hidup kita.

 

 

  1. A.    Pengertian Biaya

 

Menurut Supriyono (2000;16), Biaya adalah harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.

Menurut Henry Simamora (2002;36), Biaya adalah kas atau nilai setara kas yang dikorbankan untuk barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat pada saat ini atau di masa mendatang bagi organisasi.

Menurut Mulyadi (2001;8), Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.

Menurut Masiyah Kholmi, Biaya adalah pengorbanan sumber daya atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat di saat sekarang atau di masa yang akan datang bagi perusahaan.

 

 

  1. B.     Penggolongan Biaya

 

Menurut Mulyadi (2005:13), Biaya digolongkan sebagai berikut;

  1. Menurut Objek Pengeluaran. Penggolongan ini merupakan penggolongan yang paling sederhana, yaitu berdasarkan penjelasan  singkat mengenai suatu objek pengeluaran, misalnya pengeluaran yang berhubungan dengan telepon disebut “biaya telepon”.
  2. Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan, biaya dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu:

(1)   Biaya Produksi, yaitu semua biaya yang berhubungan dengan fungsi produksi atau kegiatan pengolahan bahan baku menjadi produk selesai. Biaya produksi dapat digolongkan ke dalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.

(2)   Biaya Pemasaran, adalah biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk, contohnya biaya iklan, biaya promosi, biaya sampel, dll.

(3)   Biaya Administrasi dan Umum, yaitu biaya-biaya untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan produksi dan pemasaran produk, contohnya gaji bagian akuntansi, gaji personalia, dll.

  1. Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu Yang Dibiayai. Ada 2 golongan, yaitu:

(1)   Biaya Langsung (direct cost), merupakan biaya yang terjadi dimana penyebab satu-satunya adalah karena ada sesuatu yang harus dibiayai. Dalam kaitannya dengan produk, biaya langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.

(2)   Biaya Tidak Langsung (indirect cost), biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai, dalam hubungannya dengan produk, biaya tidak langsung dikenal dengan biaya overhead pabrik.

  1. Menurut Perilaku dalam Kaitannya dengan Perubahan Volume Kegiatan, biaya dibagi menjadi 4, yaitu

(1)   Biaya Tetap (fixed cost), biaya yang jumlahnya tetap konstan tidak dipengaruhi perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai tingkat kegiatan tertentu, contohnya; gaji  direktur produksi.

(2)   Biaya Variabel (variable cost), biaya yang jumlah totalnya berubah secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan atau aktivitas, contoh; biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung.

(3)   Biaya Semi Variabel, biaya yang jumlah totalnya berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semi variabel mengandung unsur biaya tetap dan biaya variabel, contoh; biaya listrik yang digunakan.

(4)   Biaya Semi Fixed, biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

  1. Menurut Jangka Waktu Manfaatnya, biaya dibagi 2 bagian, yaitu;

(1)   Pengeluaran Modal (Capital Expenditure), yaitu pengeluaran yang akan memberikan manfaat/benefit pada periode akuntansi atau pengeluaran yang akan dapat memberikan manfaat pada periode akuntansi yang akan datang.

(2)   Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure), pengeluaran yang akan memberikan manfaat hanya pada periode akuntansi dimana pengeluaran itu terjadi.

 

 

  1. C.    Biaya Pemasaran

 

Menurut Mulyadi (2005:487), Biaya pemasaran dalam arti sempit dibatasi artinya sebagai biaya penjualan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk ke pasar. Sedangkan biaya pemasaran dalam arti luas meliputi semua biaya yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai.

Menurut Hansen & Mowen (2001:47), Biaya pemasaran adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk memasarkan produk atau jasa, meliputi biaya gaji dan komisi tenaga jual, biaya iklan, biaya pergudangan dan biaya pelayanan pelanggan.

Menurut Henry Simamora (2002:37), Biaya pemasaran atau penjualan (Marketing Cost) meliputi semua biaya yang dikeluarkan untuk mendapat pesanan pelanggan dan menyerahkan produk atau jasa ke tangan pelanggan.

 

 

  1. D.    Penggolongan Biaya Pemasaran

 

Mulyadi (2005:488) menggolongkan biaya pemasaran menjadi dua golongan, yaitu:

(1)    Order Getting Cost (Biaya untuk mendapatkan pesanan), yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam usaha untuk memperoleh pesanan. Contohnya; biaya gaji dan wiraniaga, komisi penjualan, advertensi dan promosi.

(2)   Order Filling Cost (Biaya untuk memenuhi pesanan), yaitu semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka mengusahakan agar produk sampai ke tangan pembeli/konsumen. Contohnya; biaya pergudangan, biaya pengangkutan dan biaya penagihan.

 

 

  1. E.     Biaya Promosi

 

Menurut Phillip Kotler dialihbahasakan Benyamin Molan (2000:640), Biaya promosi adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan untuk promosi.

Menurut Henry Simamora (2002:762), Biaya promosi merupakan sejumlah dana yang dikucurkan perusahaan ke dalam promosi untuk meningkatkan penjualan.

 

 

  1. F.     Biaya Layanan Konsumen

 

Menurut Phillip Kotler (2000:41), biaya layanan konsumen adalah sekumpulan biaya yang dikeluarkan untuk mengevaluasi, mendapatkan, dan menggunakan produk atau jasa tersebut.

Menurut E. Jerome Mc.Carthy dialihbahasakan Gunawan Hutauruk, biaya layanan konsumen adalah jenis-jenis pengeluaran yang mendukung operasi suatu perusahaan.

           

PERHITUNGAN INDEKS HARGA KONSUMEN

  1. Tetapkan isi keranjang
  2. Tetapkan harga
  3. Hitung harga/biaya isi keranjang
  4. Pilih tahun dasar dan hitung indeksnya
  5. Hitung tingkat inflasi

 

PERHITUNGAN INDEKS HARGA KONSUMEN DAN TINGKAT INFLASI

  • Langkah 1 : Adakan survey guna menentukan sekeranjang belanjaan barang yang dibeli rata-rata konsumen.

4 sepeda

2 mobil

  • Langkah 2 : Ketahui harga masing-masing barang setiap tahunnya.

TAHUN

HARGA SEPEDA

HARGA MOBIL

2001

1

2

2002

2

3

2003

3

4

  • Langkah 3 : Hitung biaya keranjang belanjaan barang setiap tahun.

2001

(1 per sepeda x 4 sepeda) + (2 per mobil x 2 mobil)

8

2002

(2 per sepeda x 4 sepeda) + (3 per mobil x 2 mobil)

14

2003

(3 per sepeda x 4 sepeda) + (4 per mobil x 2 mobil)

20

 

 

 

  • Langkah 4 : Pilih salah satu tahun sebagai tahun dasar (2001) dan hitung indeks harga konsumen setiap tahunnya.

2001

(8/8) x 100

100

2002

(14/8) x 100

175

2003

(20/8) x 100

250

 

 

  • Langkah 5 : Gunakan indeks harga konsumen untuk menghitung tingkat inflasi setiap tahun dari tahun sebelumnya.

2002

(175-100)/100 x 100

75%

2003

(250-175)/175 x 100

43%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

INFLASI

.           Inflasi adalah kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus. Dari definisi ini, ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat katakana telah terjadi inflasi yaitu kenaikan harga, bersifat umum dan berlangsung terus menerus.

  1. 1.      Kenaikan Harga

Harga suatu komoditas dikatakan naik apabila menjadi lebih tinggi daripada harga periode sebelumnya. Perbandingan tingkat harga bisa dilakukan dengan jarak waktu yang lebih panjang : seminggu, sebulan, triwulan, dan setahun. Perbandingan harga juga bisa dilakukan berdasarkan patokan musim.

 

  1. 2.      Bersifat Umum

Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga-harga secara umum naik. Pengalaman Indonesia menunjukkan setiap pemerintah menaikkan harga BBM, harga-harga komoditas lain turut naik.karena BBM merupakan komoditas strategis, maka kenaikan harga BBM akan merambat kepada kenaikan harga komoditas yang lain.

 

  1. 3.      Berlangsung Terus-Menerus

Kenaikan harga yang bersifat umum juga belum akan memunculkan inflasi, jika terjadi hanya sesaat. Karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal sebulan. Sebab dalam sebulan akan terilihat apakah kenaikan harga bersifat umum dan terus menerus.

 

 

 

ANALISIS PEMERINTAHAN AGREGAT DAN PENAWARAN AGREGAT

            Harga jual suatu komoditas ditentukan oleh kekuatan pasar, yakni interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran. Kenaikn harga barang adalah proses penyesuaian dari gejala terjadinya peningkatan permintaan. Analogi ini dapat dipakai dalam analisis inflasi. Karena permintaan dan penawaran agregat, maka dapat dianggap merupakan permintaan dan penawaran perekonomian.

  1. 1.      Permintaan Agregat

Permintaan agregat adalah total permintaan barang dan jasa dalam suatu periode tertentu. Bentuk kurva AD sama seperti kurva permintaan terhadap suatu komoditas tertentu. Bedanya aadalah tingkat harga merupakan tingkat harga umum yang biasanya dalam angka indeks.

Diagram 2.1

Diagram Permintaan Agregat

                        P

 

                                                    Shifting

 

 

 

                                                                                      

                                                                                       AD1

AD0

0                                                                                                                                            Y

  1. Pengaruh Kebijkan Moneter Terhadap Permintaan Agregat

Kebijakan moneter adalah kebijakan yang bertujuan mengarahkan ekonomi makro ke kondisi yang di inginkan, dengan mengatur jumlah uang beredar. Kebijakan uang ketat (kebijakan umum kontraktif) akan mengurangi jumlah uang beredar dalam masyarakat.

  1. Pengaruh Kebijakan Fiskal Terhadap Permintaan Agregat

Kebijakan fiscal adalah kebijakan ekonomi yang bertujuan mengarahkan ekonomi makro ke kondisi yang diinginkan dengan mengatur anggaran pemerintah, terutama sisi pengeluaran dan penerimaan. Alat utama kebijakan fiscal pemerintah adalah pajak dan subsidi. Jika pemerintah menempuh kebijakan anggaran deficit (pengeluaran > penerimaan), maka permintaan agregat akan meningkat, sebab untuk menempuh kebijakan deficit, pemerintah harus mengurangi pendapatannya dengan mengurangi pajak atau menambah pengeluaran.

Diagram 2.2

Pengaruh Kebijakan Ekonomi Pemerintah

Terhadap Permintaan Pemerintah

P                                                                                  P         

                                                                                                  

 

 

                                              Kebijakan moneter                                                       kebijakan

                                              ekpansif                                                                   anggaran

 

 

   defisit                                

 

                                                            AD1                                                                                                     AD1

  Kebijakan                                      AD0                                 kebijakan anggaran                             AD0

  Moneter konteraktif                 AD2                                       surplus                                                 AD2

 

 

 

 

0                                                                            Y        0                                                               Y

                                    (a)                                                                        (b)

                        Kebijakan Moneter                                                Kebijakan Fiskal

  1. 2.      Penawaran Agregat

Kebijakan Pemerintah juga sangat berpengaruh terhadap penawaran agregat. Kebijakan moneter ekspansif, misalnya dengan memberikan bantuan kredit, dapat meningkatkan penawaran agregat, sehingga kurva AS bergeser ke kanan (Diagram 9.3.a). Kebijakan fiskal ekspensif akan meningkatkan penawaran agregat, sehingga kurva AS bergeser ke kanan  

Diagram 2.3

Pengaruh Kebijakan Pemerintah

Terhadap penawaran agregat

P                                                                                   P 

 

 

 

 

     Kebijakan moneter             AS2                                                      Kebijakan anggaran         AS2

     konteraktif                                AS0                                              konteraktif                        AS0

                                                      AS1                                                                                                          AS1

 

                                 

                                  

 

 

 

Kebijakan moneter ekspensif                                                  Kebijakan

anggaran  ekspensif

 

                                  

0                                                                      Y            0                                                                Y

 

 

  1. 3.      Inflasi Tekanan Permintaan (Demand-Pull Inflation)

Inflasi tekanan permintaan (demand-pull inflation) adalah inflasi yang terjadi karena dominannya tekanan permintaan agregat. Dalam inflasi tekanan permintaan,tidak selalu berarti penawaran agregat (AS) tidak bertambah. Yang pasti, kalaupun terjadi pertambahan penawaran agregat, jumlahnya lebih kecil dibanding peningkatan permintaan agregat.

 

  1. 4.      Inflasi Dorongan Biaya (Cost-Push Inflation)

Inflasi dorongan biaya (cost-push inflation) terjadi karena kenaikan biaya produksi. Biasanya menyebabkan penawaran agregat berkurang. Misalnya, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) dan BBM akan menyebabkan biaya produksi barang-barang output sektor industry menjadi lebih mahal, yang mengurangi penawaran agregat. Jika yang berkurang adalah penawaran agregat, inflasi akan disertai kontraksi ekonomi, sehingga jumlah output (PDB) menjadi lebih kecil (   ).

 

 

  1. 5.      Stagflasi

Stagflasi menerangkan kombinasi dari dua keadaan buruk, yaitu stagnasi dan inflasi. Stagnasi adalah kondisi dimana tingkat pertumbuhan ekonomi sekitar nol persen per tahun. Jumlah output relative tidak bertambah. Sayangnya, kondisi ini disertai inflasi. Secara grafis terlihat stagflasi akan terjadi jika permintaan agregat (AD) bertambah, sedangkan penawaran agregat (AS) berkurang.

 

 

BEBERAPA INDIKATOR INFLASI

            Ada beberapa indikator ekonomi makro yang digunakan untuk mengetahui laju inflasi selama satu periode tertentu. Tiga diantaranya akan dibahas dalam uraian berikut ini.

 

1)      Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index)

Indeks harga konsumen (IHK) adalah angka indeks yang menunjukkan tingkat harga barang dan jasa yang harus dibeli konsumen dalam satu periode tertentu. Angka IHK diperoleh dengan menghitung harga-harga barang dan jasa utama yang dikonsumsi masyarakat dalam satu periode tertentu. Masing-masing harga barang dan jasa tersebut diberi bobot (weighted) berdasarkan tingkat keutamaannya. Barang dan jasa yang dianggap paling penting diberi bobot yang paling besar.

 Di Indonesia, perhitungan IHK dilakukan dengan mempertimbangkan sekitar beberapa ratus komoditas pokok. Untuk lebih mencerminkan keadaan yang sebenarnya, perhitungan IHK dilakukan dengan melihat perkembangan regional, yaitu dengan mempertimbangkan tingkat inflasi kota-kota besar, terutama ibukota provinsi-provinsi di Indonesia.

 

2)      Indeks Harga Perdagangan Besar (Wholesale Price Index)

Jika IHK melihat inflasi dari sisi konsumen, maka Indeks Harga Perdangangan Besar (IHPB) melihat inflasi dari sisi produsen. Oleh karena itu IHPB sering juga disebut sebagai indeks harga produsen (producer price indekx). IHPB menunjukkan tingkat harga yang diterima produsen pada berbagai tingkat produksi.

 

Prinsip menghitung inflasi berdasarkan data IHPB adalah sama dengan cara berdasarkan IHK:

 

Inflasi =  x 100% 

 

3)      Indeks Harga Implisit (GDP Deflator)

Walaupun sangat bermanfaat, IHK dan IHPB memberikan gambaran laju inflasi yang sangat terbatas. Sebab, dilihat dari metode penghitungannya, kedua indikator tersebut hanya melingkupi beberapa puluh atau mungkin ratus jenis barang jasa, dibeberapa puluh kota saja. Padahal dalam kenyataan, jenis barang dan jasa yang diproduksi atau dikonsumsi dalam sebuah perekonomian dapat mencapai ribuan, puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu jenis. Kegiatan ekonomi juga terjadi tidak hanya dibeberapa kota saja, melainkan seluruh pelosok wilayah. Untuk mendapatkan gambaran inflasi yang paling mewakili keadaan sebenarnya, ekonom menggunakan indeks harga implicit (GDP deflator ) disingkat IHI.   

Angka deflator ini telah diperkenalkan dalam pembahasan Produk Domestik Bruto berdasarkan harga berlaku dan konstan. Sama halnya dengan dua indikator sebelumnya, perhitungan inflasi berdasarkan IHI dilakukan dengan menghitung perubahan angka indeks.

 

 Inflasi =  x 100%

 

4)      Alternatif Dari Indeks Harga Implisit

Mungkin saja terjadi, pada saat ingin menghitung inflasi dengan menggunakan IHI tidak dapat dilakukan karena tidak memiliki data IHI. Hal ini bisa diatasi. Sebab prinsip dasar penghitungan inflasi berdasarkan deflator PBD (GDP deflator) adalah membandingkan tingkat pertumbuhan ekonomi nominal dengan pertumbuhan riil. Selisih keduanya merupakan tingkat inflasi. Pernyataan diatas dapat dibuktikan dengan persamaan matematika sederhana dibawah ini.

Jika PDB menurut harga berlaku dinotasikan PDBN, PDB berdasarkan harga konstan adalah PDBR dan deflator PDB adalah D, maka seperti telah disingung dalam bab 2.

 

PDBN =  PDBR x D ….………………………………………………………………….. (9.1)

 

Karena angka PDB sangat besar, kita ubah dalam bentuk logaritma, dimana X = log PDBN, Q = log PDBR, dan P = log Deflator (D). Persamaan (9.1) dapat ditulis ulang sebagai :

 

X = Q + P ………………………………………………………………………………….. (9.2)

 

Perubahan ketiga variabel diatas dari waktu ke waktu (berdasarkan fungsi waktu) adalah :

 

 =  +  ………………………………………………………………. (9.3)

 

Arti ekonomi dari Persamaan (9.3) adalah pertumbuhan ekonomi nominal

sama dengan pertumbuhan ekonomi riil

 ditambah dengan tingkat inflasi

atau dapat dikatakan :

 

Inflasi = Pertumbuhan nominal – Pertumbuhan riil

 

Karena itu, angka inflasi dapat dihitung jika memiliki data PDB menurut harga berlaku (PDB nominal) dan PDB berdasarkan harga konstan (PDB riil).

 

 

BIAYA SOSIAL DARI INFLASI

            Harus diakui, sampai tingkat tertentu, inflasi dibutuhkan untuk memicu pertumbuhan penawaran agregat. Sebab kenaikan harga akan memacu produsen untuk meningkatkan output-nya. Kendatipun belum dapat dibuktikan secara sistematis, umumnya ekonom sepakat bahwa inflasi yang aman adalah sekitar 5% per tahun. Jika terpaksa, maksimal 10% per tahun. Bagaimana jika inflasi melebihi angka 10 % ? Umumnya sudah mulai sangat menggangu stabilitas ekonomi. Apalagi bila yang terjadi adalah hiperinflasi (hyper-inflation), yaitu yang ≥ 100% per tahun.

            Ada beberapa masalah social (biaya sosial) yang muncul dari inflasi yang tinggi (≥ 10% per tahun ). Yang akan dibahas dalam bagian ini adalah :

  • Menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat
  • Memburuknya distribusi pendapatan
  • Terganggunya stabilitas ekonomi

 

  1. Menurunnya Tingkat Kesejahteraan Rakyat

Tingkat kesejahteraan masyarakat, sederhananya diukur dengan tingkat daya beli pendapatan yang diperoleh. Inflasi menyebabkan daya beli pendapatan makin rendah, khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan kecil dan tetap (kecil). Misalnya, Pak Sudar adalah pegawai negri sipil (PNS) golongan rendah dengan total penghasilan Rp 300.000,00 per bulan. Tahun lalu harga beras Rp 1.500,00 per kilogram. Karena itu gaji Pak Sudar tahun lalu setara dengan 200 kilogram per bulan. Jika terjadi inflasi 20% per tahun, maka tahun ini gaji per bulan Pak Sudar setara dengan 166 kilogram beras. Kesejahteraan Pak Sudar menurun. Jika inflasi tetap 20% per tahun, maka dalam termpo 3,5 tahun, kesejahteraan Pak Sudar tinggal separuhnya. Makin tinggi tingkat inflasi, makin cepat penurunan tingkat kesejateraan.

  1. Makin Buruknya Disribusi Pendapatan

Dampak buruk inflasi terhadap tingkat kesejahteraan dapat dihindari jika pertumbuhan tingkat pendapatan lebih tinggi dari tingkat inflasi. Jika inflasi 20% per tahun, pertumbuhan tingkat pendapatan harus lebih besar dari 20% per tahun. Persoalannya adalah jika inflasi mencapai angka 20% per tahun, dalam masyarakat hanya segelintir orang yang mempunyai kemampuan meningkatkan pendapatannya ≥ 20% per tahun. Akibatnya, ada sekelompok masyarakat yang mampu meningkatkan pendapatan riil (pertumbuhan pendapatan nominal dikurangi laju inflasi lebih besar dari 0% per tahun). Tetapi sebagian besar masyarakat mengalami penurunan pendapatan riil. Distribusi pendapatan, dilihat dari pendapatan riil, makin memburuk. 

  1. Terganggunya Stabilitas Ekonomi

Pengertian yang paling sederhana dari stabilitas ekonomi adalah sangat kecilnya tindakan spekulasi dalam perekonomian. Produsen berproduksi pada kapasitas penuh (optimal). Konsumen juga memakai barang dan jasa optimal dengan kebutuhan mereka. Kondisi nyaman ini mulai terganggu bila inflasi yang relatif tinggi telah menjadi kronis.

Inflasi mengganggu stabilitas ekonomi dengan merusak perkiraan tentang masa depan (ekspektasi) para pelaku ekomoni. Inflasi yang kronis menumbuhkan perkiraan bahwa harga-harga barang dan jasa akan terus naik. Bagi konsumen perkiraan ini mendorong pembelian barang dan jasa lebih banyak dari yang seharusnya/biasanya. Tujuannya untuk lebih menghemat pengeluaran konsumsi. Akibatnya, permintaan barang dan jasa justru dapat meningkat.

Bagi produsen perkiraan akan naiknya harga barang dan jas amendorong mereka menunda penjualan, untuk mendapat keuntungan yang lebih besar. Penawaran barang dan jasa berkurang. Akibatnya, kelebihan permintaan membesar dan mempercepat laju inflasi. Tentu saja, kondisi ekonomi akan menjadi semakin memburuk.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Hansen & Mowen. 2001. Manajemen Biaya, Edisi bahasa Indonesia, Buku Dua, Edisi Pertama. Jakarta: Salemba Empat.

 

Henry Simamora.2002. Akuntansi Manajemen. Jakarta: Salemba Empat.

 

Kotler, Phillip. 2000. Manajemen Pemasaran, Alihbahasa Benyamin Molan. Jakarta: Erlangga.

 

http://addysumoharjo.blogspot.com/2011/11/jenis-dan-bentuk-pengelolaan-biaya.html

 

 

 

 

About these ads

About gilanggp91

Berbagi informasi dan ilmu, semoga bermanfaat.

Posted on 6 Juni 2012, in Dokumen. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Bersama Berbagi

Sedikit Sama Dengan Berbagi, Banyak Sama Dengan Berbagi Bersama

gilanggp91

Semoga bermanfaat

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: